BERLIBUR DENGAN BINDER BUTUT




Hey, kawan. Kalian yang sudah berada di rumah masing-masing apa kabar semuanya, baikkan? Alhamdulillah kalau kalian baik. selamat berlibur, kawan. Untuk mengisi liburan kali ini, kalian pasti berlibur ketempat yang menarik dan indah. bersama keluargamu tentunya. Berbeda denganku, ibuku sakit-sakitan, dan aku harus merawatnya dengan baik, rasanya aku tidak mau meninggalkan ibu walau sepersekian detikpun. Aku tahu, aku sangatlah menginginkan berada di posisi kalian, berlibur dengan keluarga. Tapi, amatlah sulit rasanya.Aku hanya gadis pelosok desa.

Namaku Nurul Laila, biasa di panggil Lail. Sekarang aku sedang memandangi wajah ibu yang sedang terlelap. Wajah putihnya berubah menjadi pucat. Rambut hitamnya kini berganti menjadi putih. kerut wajahnya pun semakin terlihat. mungkin banyak beban yang ibu pikirkan, terutama gadis manisnya ini.Sesekali wajah ibu berubah, merintih kesakitan, entahlah ibu merasakan apa. Kalau aku tanya, ibu pasti menjawab tidak apa-apa, hanya pusing biasa. Aku tahu, jawaban ibu tidak sama dengan penyakit sebenarnya.

Buku binder butut pemberian ayah beberapa tahun lalu sebelum ayah meninggal berada dihadapanku, aku selalu bercerita dengannya, dengan binder butut. Aku rasa, dengan aku tuliskan semua kejadian-kejadian keseharianku, aku bisa meredam kegelisahan masalahku, termasuk memikirkan ibu, ibu yang terbaring lemah di atas kasur kusam. Kata-kata motivasi yang sering aku dapatkan juga selalu berbicara hal yang sama. tulis semuanya, apapun. apapun yang terjadi tulis. seperti yang di katakan Pramoedya Ananta Toer, "Semua harus ditulis, apapun, jangan takut tidak dibaca."









Aku berlibur dengan Binder butut ini, berpetualang kembali ke masa lalu. bersama teman-teman. bersama ayah-ibu. Masa putih abu-abu yang paling aku sukai, banyak kenangan hangat yang menyelimuti tubuh mungilku. Aku larut dengan petualangan masa lalu, berlibur walaupun hanya dengan binder butut peninggalan ayah.

Ibu terbangun akibat batuknya, batuk yang menurutku sangat menyebalkan. Astaghfirulloh, aku sudah berpikir yang tidak-tidak. Aku lihat, dibibir ibu seperti ada bercak darah. Aku letakkan binder dan pulpen yang aku pegang. angsung mengambil tisu didepanku.

"ibu... kau baik-baik saja?"

Aku lafalkan doa-doa untuk ibu, kepada sang khalik yang berkuasa. Allah. Semoga engkau selalu menjaga ibuku. keluarga satu-satunya yang aku miliki.










0 Comment for "BERLIBUR DENGAN BINDER BUTUT"

Back To Top